Sabtu, 07 Maret 2009

refleksi filsafat matematika 6 maret 09

Beberapa hal didunia ini tak cukup hanya di pikirkan dengan logika saja, kadang kala menyakini dengan hati merupakan segalanya. Anugrah, rizki, kesempatan dan yang paling aneh sekalipun berbentuk keberuntungan yang dalam bahasa paranormal dikatakan sebagai "keajaiban", merupakan hal-hal yang sangat abstrak yang coba kita uraikan dalam bentuk persamaan-persamaan matematika. Bagaimana menghitung segala sesuatu di dunia ini, mulai dari peta kekuasaan, cara pergi ke bulan, sampai energi yng dibutuhkan untuk memberikan suatu reaksi atas aksi-aksi yang terjadi di sekeliling kita.

Akan tetapi segala sesuatu yang berputar dalam ruang dan waktu tak kan bisa dipisahkan, baik itu hanya berupa ruang ataupun berupa waktu. kesemuanya itu merupakan satu paket kehidupan kita di dunia yang disebut oleh orang-orang sebagai bumi, yang berbentuk bola, berputar pada porosnya dengan gerakan melingkar dan berevolusi terhadap matahari dalam manzi-manzi keteraturan garis lurus yang semu, karena sesungguhya gerakan revolusi itu sendiri bebentuk ellips.

Berbicara soal waktu tak terlepas dari kesempatan-kesempatan yang hanya terjadi sekali seumur hidup, tak seperti dalam khayalan komikus dan penghayal lainnya, yang mendambakan mesin waktu dan berharap dapat mengulangi segala sesuatu yang terjadi dengan harapan masa depan yang terjadi, dapat lebih baik dari yang telah dialami. Makanya dalam bahasa inggris waktu sekarang itu dinyatakan sebagai "present" yang berarti hadiah, hal ini karena masa sekarang itu hadiah yang tidak dapat kita perkirakan apa-apa yang terdapat didalamnya. Namun apabila waktu itu dapat disusutkan sampai pada batas hilangnya, dan yang tersisa hanyalah ruang, maka yang terjadi pada kita dan dunia ini adalah bertumpuknya berbagai kehidupan dalam satu waktu saja. Bertemu dengan semua makhluk dari zaman negatif tak berhingga sampai zaman positif tak berhingga, bertemu dengan nabi adam sampai kaum jahiliyahnya akhir zaman. akan tetapi eksistensi kita pun menjadi pertanyaan, karena tidak ada yang dapat menyatakan kita dalam persamaan waktu. kita tidak tahu bentuk kita pada saat tersebut. apakah dalam bentuk bayi yang pertama kali melihat kedholiman dunia atau pada saat berusia remaja ataupun ketika akhir hayat, tak ada yang tahu. dan cenderung menghilang karena kita, pada saat itu tidak punya waktu.

Seperti layaknya waktu, ruang pun akan menjadi suatu yang amat penting dan tak dapat kita nafikkan bahwa tanpa ruang yang ada hanyalah waktu. dan kita akan punya waktu yang banyak untuk melakukan hal-hal yang tidak ataupun belum sempat kita lakukan. Akan tetapi semua itu akan menjadi barang semu, karena tanpa ruang kita takkan punya bentuk nyata, dalam artian tidak punya tempat untuk mengekspresikan segalanya yang belum sempat kita lakukan. Tidak dapat beraksi maupun memberi reaksi terhadap orang lain, karena sama seperti halnya kita orang lain pun tidak punya entitas dalam ketidakberadaan.

Satu paket ruang dan waktu merupakan sesuatu yang harus dan wajib kita syukuri, dengan cara menggunakan waktu sebaik-baiknya dan mengeksiskan diri kita dalam hubungan satu dengan yang lain. Ada kalanya kita tidak menyadari bahwa keduanya merupakan anugrah. maka dari itu sadarlah akan ruang (baca: tempat) dan sadarlah akan waktu.


1 komentar: