Jumat, 12 Juni 2009

Tugas Akhir Mata Kuliah Filsafat

MENGGAPAI FILSAFAT PENDIDIKAN MATEMATIKA

Pada masa dewasa ini sebagai tenaga kependidikan khususnya di bidang kajian matematika merupakan suatu yang banyak dikejar oleh generasi muda dengan anggapan prospek yang lumayan cerah sebagai penopang masa yang akan datang. Hal ini dipicu oleh program setifikasi yang dicanangkan pemerintah dalam meningkatkan taraf mutu pendidikan di negeri ini. Dengan tolak ukur "luar negeri" sebagai bahan acuan yang digunakan, maka bergeserlah sistem-sistem kependidikan di Indonesia. Yang tentu saja merubah tatanan pendidikan feodal yang di dogmakan sedemikian hebatnya selama lebih kurang setengah abad bercokol dalam dunia kependidikan.

Ada beberapa poin krusial yang lumayan menarik diperbincangkan dalam menjadikan "luar negeri" sebagai kiblat baru dalam sistem kependidikan kita.

Yang pertama tentu saja budaya kita yang telah lama di dogma sedemikian sehingga membentuk pola pikir sebagian besar umat bangsa ini. Yang berakibat bahwa suatu pendidikan formal haruslah ada guru yang menjadi pusat revolusi perputaran pembelajaran di instansi-instansi pendidikan kita. yang tentu saja sebagai tombak pengarah sistem pendidikan baru ini adalah para generasi muda yang akan menggantikan kefeodalan sistem pendidikan kita yang mungkin sekarang sedang menggali pengetahuan sebagai modal reformasi tersebut.

Selanjutnya adalah keanekaragaman dalam bangsa ini, yang masing-masing membawa trah kultur budaya masing-masing yang tentu saja mengakibatkan akulturasi yang sedemikian hebat sehingga akan melahirkan kebudayaan baru. Akan tetapi antara kehidupan dan kematian yang biasanya beriringan, ketika ada yang lahir, biasanya ada yang mati. Demikian pula dengan percampuran kebudayaan ini, budaya-budaya yang tersisihkan atau tidak mampu bertahan akan terkikis secara perlahan ataupun drastis hilang dari permukaan pergaulan masyarakat kita. tidak hanya itu faktor yang lumayan krusial di bidang budaya ini adalah kenyataan bahwa kebudayaan kita jauh berbeda dengan negara yang menjadi patokan dari sistem-sistem yang sedang kita terapkan dalam bidang pendidikan kita. sementara pemerintah membuat asumsi baru yaitu menyamaratakan hasil pembelajaran di negara yang sedemikian luasnya ini dengan berbekal Ujian Akhir Nasional. yang dimana notabene penduduk negeri ini berbeda antara yang dipelosok daerah yang harus menyebrangi sungai, berhadapan dengan buaya (cerminan film laskar pelangi) , demi pergi ke sekolah dengan yang ada di kota besar yang bergelimangan informasi dari internet, TV, dan berbagai sumber-sumber lain yang dengan mudahnya didapatkan hanya dalam hitungan detik. belium lagi fasilitas penunjang pembelajaran yang serba miris dalam artian perbedaan yang sangat mencolok dari keadaan penduduk bangsa ini.

Kembali pada permasalahan utama dari tulisan ini yaitu "menggapai filsafat pendidikan matematika" dan dari realita lingkungan sekitar kita, seberapa jauh kita sudah memikirkan permasalahan pendidikan matematika di lingkungan kita dengan segala permasalahan kompleks di dalamnya?

Filsafat adalah filsafat yaitu memikirkan sesuatu dari mulai keberadaan( ontologi ), tata cara ( epistimmologi )serta kegunaan dari segala sesuatu( aksiologi ). tapi tentu saja memikirkan segala sesuatu itu berat. satu hal kecil yang dibesar-besarkan akan menjadi pelik, belum lagi bila hal besar yang diperbesar. dengan memikirkan sera mendalam mungkin kita bisa menemui suatu solusi yang dapat mengatasi keterbatasan-keterbatasan yang kita miliki, khususnya dengan latar belakang kita sebagai calon pendidi yang berorientasi akhir untuk menelurkan generasi yang mampu mengikuti arus globalisasi.


Minggu, 03 Mei 2009

refleksi lagi

kali ini bicara tentang,
plato, yang ngomong tentang perbincangan sokrates, menexinus, lysis
tentang apa itu persahabatan ("friendship") ?

jangan hanya filsuf itu saja komentar tentang frenship,
kamu, aku, dia, boleh berkomentar .

jadi menurutmu apa itu persahabatan ?
seberapa perlu engkau dengan persahabatan itu sendiri ?


to be continued....

Kamis, 30 April 2009

Elegi Perbincangan Matematika

garis:
dapatkah kau mendeskripsikan aku hai orang-orang yang melihatku ?

subjek 1 :
kau itu sebuah panjang tanpa lebar

garis :
apa itu panjang ?
apa itu lebar ?

subjek 1:
Panjang adalah dimensi suatu benda yang menyatakan jarak antar ujung
lebar adalah suatu cara pandang lain dari lebar

garis :
jadi dengan demikian dapat aku katakan bahwa aku panjang tanpa lebar,
dapat juga kukatakan bahwa diku ini lebar tanpa panjang

subjek 1:
aku pun sulit menerimanya, panjang tanpa lebar, lebar tanpa panjang
oi....
siapa yang dapa tbantu aku untuk menceriterakan tentang garis,,,,?

matematika :
panjang, engkau itu merupakan cabang dari diriku..
cabang dari geometri...

geometri :
aku juga tidak bisa mendeskripsikan dirimu garis,
dalam duniaku, deskripsi dirimu itu hanya lah kesepakatan dari beberapa orang tertentu
dan di iyakan oleh beberapa orang lainnya.

garis :
lalu dengan apa engaku beserta beberapa orang lainnya menyebutku ?

geometri :
engkau beserta beberapa temanmu diduniaku di kelompokkan sebagai bangsa dengan nama pengertian pangkal

garis :
apa maksudnya itu ?

geometri :
engkau merupakan sebuah benda yang dideskripsikan berdasarkan kesepakatan,
agar di duniaku tak terjadi arti yang berlarut-larut tentang dirimu dan temanmu

garis :
lalu siapakah temanku itu ?

geometri :
kusebutkan 2 saja ya...

garis :
ya sudah terserahmu saja, agar aku tak kesepian dan segera mencarinya cepat katakan hai geometri

geometri :
temanmu adalah titik dan bidang...

garis :
oh....
baiklah terimakasih subjek 1, matematika dan geometri,
sekarang aku akan mencari mereka....

Selasa, 31 Maret 2009

Refleksi Berikutnya

ketidaktahuan merupakan perbedaan dimensi. bagaimana menaikkan dimensi? sama halnya dengan menaikkan derajat pengetahuan kita.

kita tidak tahu atau tidak mengerti isi dari sesuatu sampai kita ketahui apa yang sebenarnya ada didalamnya.

isi tanpa wadah adalah wajar, karena dapat kita isi dengan  berbagai macam isi yang kita inginkan. tapi apa bila isi kehilangan wadah sama saja kita kehilangan tempat untuk menampung "isi" tersebut, sama hal nya kita akan kehilangan isi tersebut.

dan semua kata kata yang ada itu tidak mampu menterjemahkan isi dari pikiran kita

Sabtu, 07 Maret 2009

refleksi filsafat matematika 6 maret 09

Beberapa hal didunia ini tak cukup hanya di pikirkan dengan logika saja, kadang kala menyakini dengan hati merupakan segalanya. Anugrah, rizki, kesempatan dan yang paling aneh sekalipun berbentuk keberuntungan yang dalam bahasa paranormal dikatakan sebagai "keajaiban", merupakan hal-hal yang sangat abstrak yang coba kita uraikan dalam bentuk persamaan-persamaan matematika. Bagaimana menghitung segala sesuatu di dunia ini, mulai dari peta kekuasaan, cara pergi ke bulan, sampai energi yng dibutuhkan untuk memberikan suatu reaksi atas aksi-aksi yang terjadi di sekeliling kita.

Akan tetapi segala sesuatu yang berputar dalam ruang dan waktu tak kan bisa dipisahkan, baik itu hanya berupa ruang ataupun berupa waktu. kesemuanya itu merupakan satu paket kehidupan kita di dunia yang disebut oleh orang-orang sebagai bumi, yang berbentuk bola, berputar pada porosnya dengan gerakan melingkar dan berevolusi terhadap matahari dalam manzi-manzi keteraturan garis lurus yang semu, karena sesungguhya gerakan revolusi itu sendiri bebentuk ellips.

Berbicara soal waktu tak terlepas dari kesempatan-kesempatan yang hanya terjadi sekali seumur hidup, tak seperti dalam khayalan komikus dan penghayal lainnya, yang mendambakan mesin waktu dan berharap dapat mengulangi segala sesuatu yang terjadi dengan harapan masa depan yang terjadi, dapat lebih baik dari yang telah dialami. Makanya dalam bahasa inggris waktu sekarang itu dinyatakan sebagai "present" yang berarti hadiah, hal ini karena masa sekarang itu hadiah yang tidak dapat kita perkirakan apa-apa yang terdapat didalamnya. Namun apabila waktu itu dapat disusutkan sampai pada batas hilangnya, dan yang tersisa hanyalah ruang, maka yang terjadi pada kita dan dunia ini adalah bertumpuknya berbagai kehidupan dalam satu waktu saja. Bertemu dengan semua makhluk dari zaman negatif tak berhingga sampai zaman positif tak berhingga, bertemu dengan nabi adam sampai kaum jahiliyahnya akhir zaman. akan tetapi eksistensi kita pun menjadi pertanyaan, karena tidak ada yang dapat menyatakan kita dalam persamaan waktu. kita tidak tahu bentuk kita pada saat tersebut. apakah dalam bentuk bayi yang pertama kali melihat kedholiman dunia atau pada saat berusia remaja ataupun ketika akhir hayat, tak ada yang tahu. dan cenderung menghilang karena kita, pada saat itu tidak punya waktu.

Seperti layaknya waktu, ruang pun akan menjadi suatu yang amat penting dan tak dapat kita nafikkan bahwa tanpa ruang yang ada hanyalah waktu. dan kita akan punya waktu yang banyak untuk melakukan hal-hal yang tidak ataupun belum sempat kita lakukan. Akan tetapi semua itu akan menjadi barang semu, karena tanpa ruang kita takkan punya bentuk nyata, dalam artian tidak punya tempat untuk mengekspresikan segalanya yang belum sempat kita lakukan. Tidak dapat beraksi maupun memberi reaksi terhadap orang lain, karena sama seperti halnya kita orang lain pun tidak punya entitas dalam ketidakberadaan.

Satu paket ruang dan waktu merupakan sesuatu yang harus dan wajib kita syukuri, dengan cara menggunakan waktu sebaik-baiknya dan mengeksiskan diri kita dalam hubungan satu dengan yang lain. Ada kalanya kita tidak menyadari bahwa keduanya merupakan anugrah. maka dari itu sadarlah akan ruang (baca: tempat) dan sadarlah akan waktu.