MENGGAPAI FILSAFAT PENDIDIKAN MATEMATIKA
Pada masa dewasa ini sebagai tenaga kependidikan khususnya di bidang kajian matematika merupakan suatu yang banyak dikejar oleh generasi muda dengan anggapan prospek yang lumayan cerah sebagai penopang masa yang akan datang. Hal ini dipicu oleh program setifikasi yang dicanangkan pemerintah dalam meningkatkan taraf mutu pendidikan di negeri ini. Dengan tolak ukur "luar negeri" sebagai bahan acuan yang digunakan, maka bergeserlah sistem-sistem kependidikan di Indonesia. Yang tentu saja merubah tatanan pendidikan feodal yang di dogmakan sedemikian hebatnya selama lebih kurang setengah abad bercokol dalam dunia kependidikan.
Ada beberapa poin krusial yang lumayan menarik diperbincangkan dalam menjadikan "luar negeri" sebagai kiblat baru dalam sistem kependidikan kita.
Yang pertama tentu saja budaya kita yang telah lama di dogma sedemikian sehingga membentuk pola pikir sebagian besar umat bangsa ini. Yang berakibat bahwa suatu pendidikan formal haruslah ada guru yang menjadi pusat revolusi perputaran pembelajaran di instansi-instansi pendidikan kita. yang tentu saja sebagai tombak pengarah sistem pendidikan baru ini adalah para generasi muda yang akan menggantikan kefeodalan sistem pendidikan kita yang mungkin sekarang sedang menggali pengetahuan sebagai modal reformasi tersebut.
Selanjutnya adalah keanekaragaman dalam bangsa ini, yang masing-masing membawa trah kultur budaya masing-masing yang tentu saja mengakibatkan akulturasi yang sedemikian hebat sehingga akan melahirkan kebudayaan baru. Akan tetapi antara kehidupan dan kematian yang biasanya beriringan, ketika ada yang lahir, biasanya ada yang mati. Demikian pula dengan percampuran kebudayaan ini, budaya-budaya yang tersisihkan atau tidak mampu bertahan akan terkikis secara perlahan ataupun drastis hilang dari permukaan pergaulan masyarakat kita. tidak hanya itu faktor yang lumayan krusial di bidang budaya ini adalah kenyataan bahwa kebudayaan kita jauh berbeda dengan negara yang menjadi patokan dari sistem-sistem yang sedang kita terapkan dalam bidang pendidikan kita. sementara pemerintah membuat asumsi baru yaitu menyamaratakan hasil pembelajaran di negara yang sedemikian luasnya ini dengan berbekal Ujian Akhir Nasional. yang dimana notabene penduduk negeri ini berbeda antara yang dipelosok daerah yang harus menyebrangi sungai, berhadapan dengan buaya (cerminan film laskar pelangi) , demi pergi ke sekolah dengan yang ada di kota besar yang bergelimangan informasi dari internet, TV, dan berbagai sumber-sumber lain yang dengan mudahnya didapatkan hanya dalam hitungan detik. belium lagi fasilitas penunjang pembelajaran yang serba miris dalam artian perbedaan yang sangat mencolok dari keadaan penduduk bangsa ini.
Kembali pada permasalahan utama dari tulisan ini yaitu "menggapai filsafat pendidikan matematika" dan dari realita lingkungan sekitar kita, seberapa jauh kita sudah memikirkan permasalahan pendidikan matematika di lingkungan kita dengan segala permasalahan kompleks di dalamnya?
Filsafat adalah filsafat yaitu memikirkan sesuatu dari mulai keberadaan( ontologi ), tata cara ( epistimmologi )serta kegunaan dari segala sesuatu( aksiologi ). tapi tentu saja memikirkan segala sesuatu itu berat. satu hal kecil yang dibesar-besarkan akan menjadi pelik, belum lagi bila hal besar yang diperbesar. dengan memikirkan sera mendalam mungkin kita bisa menemui suatu solusi yang dapat mengatasi keterbatasan-keterbatasan yang kita miliki, khususnya dengan latar belakang kita sebagai calon pendidi yang berorientasi akhir untuk menelurkan generasi yang mampu mengikuti arus globalisasi.
Pada masa dewasa ini sebagai tenaga kependidikan khususnya di bidang kajian matematika merupakan suatu yang banyak dikejar oleh generasi muda dengan anggapan prospek yang lumayan cerah sebagai penopang masa yang akan datang. Hal ini dipicu oleh program setifikasi yang dicanangkan pemerintah dalam meningkatkan taraf mutu pendidikan di negeri ini. Dengan tolak ukur "luar negeri" sebagai bahan acuan yang digunakan, maka bergeserlah sistem-sistem kependidikan di Indonesia. Yang tentu saja merubah tatanan pendidikan feodal yang di dogmakan sedemikian hebatnya selama lebih kurang setengah abad bercokol dalam dunia kependidikan.
Ada beberapa poin krusial yang lumayan menarik diperbincangkan dalam menjadikan "luar negeri" sebagai kiblat baru dalam sistem kependidikan kita.
Yang pertama tentu saja budaya kita yang telah lama di dogma sedemikian sehingga membentuk pola pikir sebagian besar umat bangsa ini. Yang berakibat bahwa suatu pendidikan formal haruslah ada guru yang menjadi pusat revolusi perputaran pembelajaran di instansi-instansi pendidikan kita. yang tentu saja sebagai tombak pengarah sistem pendidikan baru ini adalah para generasi muda yang akan menggantikan kefeodalan sistem pendidikan kita yang mungkin sekarang sedang menggali pengetahuan sebagai modal reformasi tersebut.
Selanjutnya adalah keanekaragaman dalam bangsa ini, yang masing-masing membawa trah kultur budaya masing-masing yang tentu saja mengakibatkan akulturasi yang sedemikian hebat sehingga akan melahirkan kebudayaan baru. Akan tetapi antara kehidupan dan kematian yang biasanya beriringan, ketika ada yang lahir, biasanya ada yang mati. Demikian pula dengan percampuran kebudayaan ini, budaya-budaya yang tersisihkan atau tidak mampu bertahan akan terkikis secara perlahan ataupun drastis hilang dari permukaan pergaulan masyarakat kita. tidak hanya itu faktor yang lumayan krusial di bidang budaya ini adalah kenyataan bahwa kebudayaan kita jauh berbeda dengan negara yang menjadi patokan dari sistem-sistem yang sedang kita terapkan dalam bidang pendidikan kita. sementara pemerintah membuat asumsi baru yaitu menyamaratakan hasil pembelajaran di negara yang sedemikian luasnya ini dengan berbekal Ujian Akhir Nasional. yang dimana notabene penduduk negeri ini berbeda antara yang dipelosok daerah yang harus menyebrangi sungai, berhadapan dengan buaya (cerminan film laskar pelangi) , demi pergi ke sekolah dengan yang ada di kota besar yang bergelimangan informasi dari internet, TV, dan berbagai sumber-sumber lain yang dengan mudahnya didapatkan hanya dalam hitungan detik. belium lagi fasilitas penunjang pembelajaran yang serba miris dalam artian perbedaan yang sangat mencolok dari keadaan penduduk bangsa ini.
Kembali pada permasalahan utama dari tulisan ini yaitu "menggapai filsafat pendidikan matematika" dan dari realita lingkungan sekitar kita, seberapa jauh kita sudah memikirkan permasalahan pendidikan matematika di lingkungan kita dengan segala permasalahan kompleks di dalamnya?
Filsafat adalah filsafat yaitu memikirkan sesuatu dari mulai keberadaan( ontologi ), tata cara ( epistimmologi )serta kegunaan dari segala sesuatu( aksiologi ). tapi tentu saja memikirkan segala sesuatu itu berat. satu hal kecil yang dibesar-besarkan akan menjadi pelik, belum lagi bila hal besar yang diperbesar. dengan memikirkan sera mendalam mungkin kita bisa menemui suatu solusi yang dapat mengatasi keterbatasan-keterbatasan yang kita miliki, khususnya dengan latar belakang kita sebagai calon pendidi yang berorientasi akhir untuk menelurkan generasi yang mampu mengikuti arus globalisasi.